Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 13 Maret 2014
Lima Kisah Mimpi Nabi Untuk Dijadikan Pengajaran

Lima Kisah Mimpi Nabi Untuk Dijadikan Pengajaran | Saya sempat membaca kisah daripada sebuah buku yang sangat menarik untuk dikongsi bersama pembaca. Kisah yang tersirat dan penuh makna, mudah-mudahan menjadi renungan bersama.
Kisah yang diceritakan ini mungkin aneh dan tidak masuk akal, tetapi tiada yang mustahil di dalam dunia ini dengan kehendak Allah.
Kisahnya mengenai Abu Laits as-Samarqandi, ahli fiqh yang masyhur. Satu ketika, dia pernah berkata: “Ayahku menceritakan bahawa antara Nabi yang bukan Rasul, ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.
Seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi pada satu malam, diperintahkan dengan mimpi yang menyatakan: “Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat.
“Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang engkau lihat maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya.”
Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam.
Nabi itu kebingungan sambil berkata: “Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan.”
Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti.
Nabi itu mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan ‘Alhamdulillah’.
Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula sebuah mangkuk emas. Dia teringat arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya.
Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu menanamnya semula sehingga tiga kali berturut-turut. Selepas tiga kali, berkatalah Nabi itu: “Aku sudah melaksanakan perintah-Mu.”
Lantas dia meneruskan perjalanannya dan tanpa disedarinya, mangkuk emas itu tetap terkeluar semula dari tempat ia ditanam.
Ketika berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung helang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata: “Wahai Nabi Allah, tolonglah aku.”
Mendengar rayuan burung itu, hatinya berasa simpati lalu memasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung helang itu datang menghampiri Nabi itu sambil berkata: “Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu, janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku.”
Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, iaitu tidak boleh memutuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu.
Akhirnya, dia membuat keputusan mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pahanya dan diberi kepada helang itu.
Setelah mendapat daging itu, helang itu terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya. Selepas kejadian itu, Nabi berkenaan meneruskan perjalanannya.
Tidak lama kemudian dia bertemu pula satu bangkai yang sangat busuk baunya, dia pun bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya.
Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, kembalilah Nabi itu ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi berdoa. Dalam doanya dia berkata: “Ya Allah, aku sudah melaksanakan perintah-Mu sebagaimana diberitahu dalam mimpiku, maka jelaskan kepadaku erti semua ini.”
Dalam mimpi, beliau diberitahu oleh Allah bahawasanya: “Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit, tetapi akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, marah akan menjadi lebih manis daripada madu.
“Kedua, semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, ia tetap akan nampak juga. Ketiga, jika menerima amanah seseorang, jangan Ente khianat kepadanya.
Keempat, jika seseorang meminta kepadamu, usahakan untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat.
Kelima, bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang duduk berkumpul membuat ghibah.”
Kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita berikutan lima perkara ini sentiasa berlaku dalam kehidupan seharian, terutama dalam soal memperkatakan hal orang lain.
Maka, pada bulan yang mulia ini, mari kita sama-sama ubah sikap. Ramadan diciptakan Allah dengan janji pahala berlipat ganda berbanding bulan biasa.
Jangan kerana sikap kita itu tadi, pahala yang ingin dikejar dalam beribadah hilang begitu saja dan menjadi sia-sia.
Wallauhalam
Sumber diambil dari Harian Metro
Selasa, 24 Desember 2013
Ternyata Mimpi Bisa Diatur

Ternyata Mimpi Bisa Diatur
Seseorang bisa mengendalikan mimpi yang dialaminya asalkan ia pada kondisi lucid dream. Apa itu Lucid Dream? Lucid Dream adalah kondisi saat seseorang sadar bahwa dia sedang bermimpi.
Dengan lucid dream, kita bisa menjadi kreator dan pemeran utama dari sebuah mimpi yang bersifat infinity. Tidak perlu ilmu khusus atau kekuatan supranatural untuk melakukannya, karena semua ini murni science dan logis.
Lucid Dream sendiri dibagi menjadi beberapa level lucidity, dimana semakin tinggi tingkat lucidity-nya semakin bebas dan leluasa anda dapat melakukan proyeksi untuk pemunculan objek dan sejenisnya.
Dengan kata lain, ketika kita mencapai tingkat lucidity paling tinggi kita menjalani kehidupan di mimpi mungkin hampir 80% persis dengan di kehidupan nyata, entah itu dari saraf-saraf yang terasa aktif bekerja, visual yang baik, indra perasa, pendengar, atau peraba yang mungkin sama seperti keadaan normal ketika kita hidup di dunia nyata.
Sudah barang tentu jika hal ini terus dikembangkan akan menjadi prospek yang baik untuk kepentingan masyarakat kelak, entah itu sebagai terapi, meditasi, atau yang jenis jasa lainnya.
Sejak Berabad-abad
Fenomena lucid dream ini sebenarnya telah banyak disebutkan di masa masa lampau, hanya saja baru beberapa dekade ke belakang ini, komunitas sains mulai mengakui keberadaan fenomena satu ini.
Suku indian, terutama para dukun (shaman) menerapkan suatu bentuk meditasi yang mampu untuk mempertahankan kesadaran meskipun tubuh sudah beristirahat.
kemudian abad ke 5, sebuah surat dari St. Augustine menyebutkan bahwa dia sadar dalam mimpinya. Di abad ke 8 lucid dream kembali terekam oleh para biksu tibet, pada buku berjudul "Tibetan Book of the Dead", para biksu tibet menerapkan suatu bentuk meditasi yoga yang mampu mengajarkan untuk menjaga kesadaran dalam mimpi.
Awal abad 19 seorang ilmuwan bernama Marquis dHervey de Saint-Denys menerbitkan sebuah buku berjudul Dreams and How to Guide Them. Buku tersebut berisi mengenai dokumentasi dari kegiatannya meneliti mimpi selama 20 tahun, dan dibuku ini dijelaskan selangkah demi selangkah perkembangan kemampuannya dalam mengontrol mimpi, termasuk juga dream recall - kondisi mengingat jelas pengalaman saat bermimpi.
Psikolog dan ilmuwan mimpi dari Belanda, Frederick Van Eeden, menjadi orang pertama yang menggunakan istilah Lucid Dream. Pada tahun 1913 dia menerbitkan jurnal pada komunitas ilmuwan psikolog mengenai lucid dream.
Istilah Lucid berasal dari bahasa Latin “Lux”, artinya “cahaya” dan “dream” artinya mimpi. Dalam bahasa Indonesia Lucid Dream bisa diartikan sebagai “mimpi yang jelas” atau “mimpi cerah”, atau “mimpi terang”.
Dalam jurnal tersebut dia merekam 352 lucid dream yang dialaminya dari tahun 1898 dan 1912. judul jurnalnya adalah "A Study of Dreams".
Di abad 20 dan 21, nama Dr.Stepehen laberge, seorang dosen di Stanford University yang dikenal mendalami penelitian soal lucid dream. berkat hasil penelitiannya dengan dr. Lynn Nagel, komunitas ilmuwan mulai mengakui lucid dream secara sains.
Salah satu adegan dalam "Inception"
Untuk memahami apa itu Lucid Dream, nggak usah jauh-jauh. Yang paling mudah, tontonlah "Inception". Dalam film besutan Christoper Nolan itu, tokoh utamanya adalah Leonardo Di Caprio.
Ia dan kelompoknya mampu mengendalikan mimpi. Melalui mimpi yang terhubungkan satu sama lain, mereka mampu mengorek informasi penting dari lawan mereka atau mempengaruhi orang untuk mengambil keputusan penting. Mimpi mereka pun berlapis-lapis. Artinya ada tingkatan kedalaman mimpi atau tingkat keterlelapan - lucidity.
Langganan:
Postingan (Atom)